Tampilkan postingan dengan label Jalan Semauku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Semauku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

Bromo: Misi Mengakhiri Bayak “Ah Sudahlah”



“Kok nggak nulis lagi? Aku suka loh baca blog kamu yang bagian putus cinta dan patah hati. Jadinya aku merasa nggak sendiri, ada juga orang yang percintaannya nggak bahagia, atau lebih parah malah!”

Taukah aku ingin membalas pesan tersebut dengan, “Bangsat!” tapi karena aku sholehah (sableng) kubalas dengan untaian doa-doa percintaan dua insan. Kan, gila! Ini bukan kali pertama ada pesan beginian. Hmm, aku menulis tentang perpisahan di blog adalah bentuk terimakasihku kepada orang- orang yang (pernah) kucintai, kemudian karena satu dan lain hal aku tidak bisa meneruskannya (opossee). Baik banget kan, udah disakitin masih nyeritain, itu nggak gampang loh, ada perang badar di dalam hatiku (kalo yang ini ngetiknya sambil ngakak).

Aku sampai pada fase menertawakan postingan-postingan percintaan di blogku sendiri, yang sedikit drama banyak rindunya. AH SUDAHLAH, namanya juga anak muda. Sekarang umurku dua puluh tiga lebih beberapa bulan, aku merasa sudah cukup tua dan enggan untuk banyak berdrama. Satu  setengah bulan setelah wisuda aku resmi bekerja di Kediri. Jika dulu aku berkoar sebagai mahasiswa bahagia, menertawakan buruh kelas menengah ngehe yang terbungkuk-bungkuk di depan komputer dari pagi hingga sore, Demi Tuhan aku kualat! Ya, nyatanya sekarang aku juga buruh yang berangkat naik sepeda motor pagi-pagi dan pulang malam hari. Nikmat? Nikmat dong!

Memegang kata-kata, “Bahagia ada di tanganmu sendiri,” membuatku dipaksa terbiasa mengalihkan kebosanan sendiri. Pergi ke warung kopi, ke toko buku, atau membaca di kamar jadi lebih sering kulakukan untuk mengisi waktu luang ketimbang travelling (apalagi pacaran, eh).  Entah, sekarang aku malas senekat dulu untuk uculan dolan sendiri atau hanya berdua semacam mbolang kata orang-orang. Jika dulu aku hampir tak pernah ikut paket tour, maka sekarang lain halnya. Ikut paket tour memungkinkan segala yang buruk-buruk seperti nggak kebagian mobil, mobil rusak, kesasar, dan lain sebagainya terminimalisir. Tenaga terbuang sia-sia juga tidak banyak, toh senin pagi harus bekerja.

“Akhir bulan yang melelahkaaaaaaan.”
“AH SUDAHLAH. NGGAK PAPA BESOK KITA BUDAL DOLAN.”

Nah adik-adik yang belum lulus, jika kamu mencibir kelas pekerja dengan bilang, “Kehidupan luar kampus itu lebih memuakkan daripada kampusmu yang katamu sekarang memuakkan!” Kujawab ya, muak tidaknya, semua ada ditanganmu, le!

AH SUDAHLAH. Aku dan beberapa teman pergi ke Bromo Jumat malam sepulang kerja. Aku menjaga untuk tidak teriak-teriak “butuh piknik” sebisaku.  Kalau ada rejeki ya week end berangkat, gitu saja. Ibuku selalu bilang, nggak usah norak, kamu bukan satu-satunya orang yang kerja dan pingin jalan-jalan! Benar-benar Tuhan suruh aku pulang ke Kediri, dekat dengan ibu, supaya hidupku makin sederhana. Nggak rumit, dan mengurangi drama, dididik lagi langsung!

Mungkin sudah banyak yang tahu menuju Bromo bisa melalui tiga jalur, Tumpang-Malang, Nongko Jajar-Pasuruan, dan Probolinggo. Sila googling saja ya karena ini memang bukan catatan perjalanan. Aku tak bisa menceritakan banyak hal menuju Bromo karena sepanjang Malang-Bromo matanya merem. Pukul sebelas lebih kami sampai di rumah Bu Oli, seorang teman,  di daerah Sukun. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan mobil hart top ke arah Tumpang . Kok ya bisa naek hart top tidur? Saking pulesnya ngga kerasa kejedot-jedot, baru sadar waktu turun, kepalanya ngilu-ngilu benjol.  

Bromo sedang tidak terlalu dingin menurutku. Kali itu aku hanya memakai kaus lengan panjang dan jaket kain, Alhamdulillah tidak menggigil. Kalau toh kedinginan parah dan jaket kurang hangat, di sana juga ada penyewaan jaket seharga lima sampai dua puluh ribu. Aku rindu tracking, jujur saja. Di bromo jalan sudah beraspal mulus, dan ada tangga-tangga menuju Penanjakan tempat melihat sun rise.  Sudah lama sekali aku tidak main ke gunung. Giliran sudah dikabulkan Tuhan main ke gunung aku masih protes, kok nggak ada trackingnya.Menungsoo!

Penanjakan punya tempat duduk bersemen untuk melihat sunrise. Aku bisa memesan pop mie atau energen sembari ketawa-ketiwi bareng teman-teman.  Aku dan ratusan orang menunggu matahari terbit.  Apa mau dikata, kabut tebal, proses matahati terbit tak tampak. Tau-tau matahari sudah mentor-mentor  di atas, hampir pukul tujuh.  Kami kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo, pasir berbisik, dan bukit Teletubies.
Kubagi saja beberapa fotonya ya, mungkin kau sedang rindu Bromo dan malas membaca tulisanku kalau terlalu panjang. Ketahuilah aku tak pandai mengedit, aku gaptek, jadi kalau menurutmu bagus ya memang karena Bromo bagus. Dan, maafkan aku tidak terlalu banyak memotret gunungnya karena teman-temanku suka sekali difoto. Dan selebihnya aku sangat menikmati bengong melihat lalu-lalang orang.


Itu jalan ke kawah. Aku nggak naik, aku makan nasi rames di bawah :))
Ini Mba Esti, aku yang motret. Pas udah cropping sama editing hasilnya kayak foto di  katalog mobil. :p

Ibu dan anak adalah objek foto yang selalu menarik!

Katalog mobil ke sekian-sekian

Dasar, kuda! 

Sabanaaaaaaa


Aku sudah pernah melihat matahari terbit di gunung, kawah, sabana, dan sekawanannya. Sekarang aku tak seperti dulu yang jingkrak-jingkrak saking senengnya. Aku sangat bahagia bisa ke gunung lagi, tapi tidak seheboh dulu. Satu yang kusarankan biar pengalamanmu mengunjungi Bromo agak berbeda. Kemarin itu, aku, mas Yunus, dan Mas Aldi naik ke atas mobil hart top dalam perjalanan dari kawasan kawah menuju Pasir Berbisik. Nah, untuk yang ini norakku muncul lagi. Aku bisa tereak-tereak. Jujur aku takut naik roller coaster, aku hanya pernah beberapa kali. Rasanya naik di atas hart top yang sedang melaju seperti naik roller coaster. Tapi aku berani, karena menurutku tidak ada kemungkinan lintasan patah atau baut pengaman protol. Padahal lebih besar kemungkinan jatuh dari atas hart top karena tentu saja nggak ada sabuk pengaman. Sebegitu bodoh dan nggak rasional itu otakku hahaha.


Aurat, Mbaaa!

Ma roller coaster

Begitulah, menghabiskan Sabtu-Minggu caraku ketika agak ada duit dan tidak benturan waktu dengan acara tertentu. Masih banyak tempat yang ingin sekali kukunjungi. Tapi, AH SUDAHLAH, aku sudah berjanji tak mau banyak drama bukan? Kedepan mungkin jika tidak malas aku akan banyak menulis hal-hal sederhana tentang kehidupan buruh di kota kecil. Bagi sebagian orang hidupku tak menarik, bahkan ada yang dengan terang-terangan bilang, “Kamu nggak ke Jakarta aja, serius? Eman-eman ya masih muda lo.” AH SUDAHLAH, aku tetap percaya bahagiaku aku sendiri yang pegang. Dan satu lagi, aku dididik waktu untuk menjadi lebih sederhana. Jadi no more drama-drama yaaaaa……

Kling, eh ponselku bunyi.
Kubuka whatsapp, membaca percakapan.
X: “Did I tell you I ever almost loved you?”
Y: “I know”
X: “Can we just meet again? I mean someday?”
Y: “Hmm… maybe.”
Kuketik.
X: “AH SUDAHLAH. Tidur, besok kerja. Night :)
Y: “Night.”

Damn! Boleh aku ingkar janji menulis, duh drama ini. Hahahahaha AH SUDAHLAH!





*Diselesaikan beberapa hari sebelum di-upload, sambil muter lagu Pewe Gaskins berjudul We Just Friend*









-Semua foto diambil dengan kameraku dan kamera Mas Yunus-





















Jumat, 20 November 2015

Jika Kelak Kau Menikahiku Refleksi (norak) Gadismu Usai Jalan-jalan ke Susan Spa








Hai (calon) jodoh,

Aku tahu mungkin saat membaca tulisan ini kamu akan terbahak sambil menoyor kepalaku. Mungkin kamu bisa juga terharu kemudian berjanji akan menambah jatah lemburmu. Mungkin juga langsung rembugan dengan orang tuamu tentang kelurga kita akan berbagi patungan berapa persen enaknya. Mungkin…. Mungkinkah kita kan slalu bersama (nyanyiik)


Ini Deva. Hush jangan salah orang!

Baiklah, biarkan aku memakai gaya bahasa sedikit serius menceritakan ini. Anggap ini adalah perempuan 25 tahun yang sebentar lagi akan dipersunting lelaki idaman.

Jika kelak kau menikahiku.

Abang, ada suatu tempat yang indah di sini. Kemarin lusa aku dan tiga temanku menyasarkan diri usai ngopi di Pondok Kopi. Namanya Susan Spa and Resort, ada di daerah Bandungan, di kaki Gunung Ungaran, tentu saja Semarang. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran tiga temanku. Mungkin seperti lazimnya mereka akan mendoa, “Tuhan, semoga aku dan jodohku Engkau persatukan di tempat ini.” Subhanalloh Bang, tempat ini memang luar biasa cantik. Kami bergantian memotret, aku paling suka angle dimana awan-awan kelihatan bergerumul putih seperti kapas dan latar belakangnya langit biru cerah. Indah sekali.


Inilah icon yang amat populer itu, namanya La Cana Chapel.  Menurutku tempat ini cocok sekali untuk pemberkatan nikah dalam Kristen atau Katholik, tapi tidak menutup kemungkinan setting bisa disesuaikan sedemikian rupa untuk ijab qabul dalam Islam.


Jangan cemburu, inimah Tiar.

Usai ijab qabul kita (kita????) bisa berbaur dengan tetamu menggunakan area luas di sekitar kapel termasuk spot yang menurutku paling eye cathing, semacam balkon luas dengan pemandangan kota Semarang. Kalau resepsinya malam hari, duh betapa romantisnya saat lampu-lampu pijar berwarna coklat redup mulai denyalakan. Atau tempat melempar hand bouqete ini. Ah sialnya kami mahasiswa cewawakan ini malah foto selfi di sini. Iya, berdua mengayunkan hand bouqete di sini, ditunggu wajah-wajah penuh harap, aku bisa membayangkan atmosphere-nya. 







Heeeii bang, nah kan kamu sudah mulai ambil kalkulator begitu. Yaampun sudah mulai menghitung berapa biaya menggotong keluargaku yang heboh itu dari Kediri ke Semarang. Ya Alloh wajahmu langsung lesu gitu sih. Padahal belum kusebut Rp 73.000.000 untuk 200 undangannya.



Liani memang syar'i :')


Sini abang sayang, taruh kalkulatornya. Sudah, tidak perlu pening begitu. Tenang ya, aku tidak menuntut apa-apa. Kamu tahu masjid tiga puluh meter dari rumahku itu, nanti kita menikah di sana dengan penuh khikmat. Aku bisa melihat awan biru di ketinggian kok asal kamu tetap ijinkan naik gunung (nawar terooos). Kamu mengucapkan ijab qobul di dekat mimbar, tidak perlu di kapel mewah. Keluargaku yang heboh itu lebih suka catering masakan Jawa Timur semacam rawon, sate, es podeng, kalau kudapan semacam macaroni schotel begitu, mereka doyan tapi kurang suka hehe. Aku akan penuh hormat mencium tanganmu meskipun kita tidak melempar hand bouqete dengan latar belakang pemandangan cantik. Aku akan tetap menjadi perempuanmu, perhiasanmu yang senantiasa berusaha lebih solehah meskipun pernikahan kita sederhana. InsyaAllah.

Lho kok kamu senyum-senyum kalau aku berterus terang begini. Duhileeh. Iya bang, nikahnya tak perlu mewah-mewah. Kita sama-sama menabung ya, investasi untuk pendidikan anak-anak nanti.

Eh tapi masak iya, nikah sederhana gitu, terus kita nggak jalan-jalan keren? Yawlaaa eh kebablasen ngodenya hehe

Sudah dulu ya, aku mau masak Indomie dulu. Hidup anak kos dini hari ya begini ini. Kamu lekas istirahat, karena aku yang paling tahu bahagiamu, ya istirahat sehat. Selamat dini hari.



Tabik
Calon jodohmu yang matre namun terarah.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Puncak Banyak Angkrem, Seandainya ada Gelembung Warna di Atas Kepalamu




Kabut dan awan, putih dan biru seperti hati yang sedang tak tahu arah harus berwarna apa. Petakilan, konyol, heboh, dan tawa-tawa kurang ajar saya bisa menepi, menyisakan gumpal lain, adalah sekadar duduk diam menunggu kuning keemasan matahari. Kami berenam (MbakDanish, Mbak Ochi, Mbak Sari, dua penduduk lokal, dan saya) telah sampai di atas batu besar di Puncak Banyak Angkrem. Asing ya?

Malam sebelumnya kami menerobos gerimis hampir sepanjang Semarang-Magelang, singgah sebentar untuk makan malam alakadarnya dan sampai di kediaman Pak Yuwono sekitar pukul sepuluh malam. Subhanalloh rejeki gadis-gadis sholehah sambutan penduduk benar-benar hangat. Dusun yang kami tuju adalah Dusun Jetis, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Bapak paruh baya yang saya panggil Babe sedang membantu merintis desa loka wisata, sastra, dan buday. Saya dan Mbak Ochi akrab dengan beliau setelah sempat bersama dalam beberapa acara sastra. Babe kemudian mengenalkan kami dengan Pak Yuwono sebagai tokoh masyarakat setempat. Obrolan dengan warga begitu gayeng. Kami juga memutuskan untuk bermalam di kediaman pak Yuwono dan memulai trekking esok sebelum subuh. “Nanti ditemani mas-mas ini mawon mbak. Karena memang ndak ada petunjuk arahnya, daripada kesasar,” ujar beliau mengingat obrolan kami baru usai lewat tengah malam.

Matur nuwun sanget, Babe :)

Obrolannya kemana-mana


Grubi, makanan khas terbuat dari singkong dan gula merah


Alarm kami menyala sekitar pukul tiga. Saya masih ketap-ketip didalam sleeping bag. Mata kami baru terpejem kurang dari  satu jam. Ah sudahlah pemalas! Akhirnya kami mulai trekking pukul 3.30. Lagi-lagi fisik saya yang tidak sekuat teman-teman membuat saya berjalan paling belakang.  Ransel saya sempat dibawakan warga lokal yang menemani kami (Maaf, saya lupa namanya, tapi masih hafal wajahnya, Duh!) meskipun tidak terlalu lama. Tenaga saya kembali ada usai makan beberapa kerat wafer keju dan digelontor air mineral. “Oalaaah kamu laper,” kata Mbak Ochi. Hehehe iya orang lain mah baperan kalau saya orangnya laperan :p


Putih atau biru?


Dan, beginilah kabut dan awan yang tidak ingin saya diskripsikan dengan kata-kata. Puncak Banyak Angkrem, Pegunungan Menoreh, Selamat mengimaji! Kakimu berada diantara batu-batu kokoh itu, matamu memandang tanpa tahu apa batasnya, nafasmu panjang dan dalam. Tersenyum selebar yang dimampu bibir, trimakasih Tuhan, saya terberkati, hidup saya sangat terbekati.

Mas Sin yang mengantar kami



Mbak Danis dan dunianya :D






Jadi, sudah ketemu apa warnamu? Putih seperti kabut, atau biru seperti awan. Jadi, jika ketenangan sudah puas tercecap, duduk diam sudah tertunaikan, lalu apa? KEMBALI CERIA! Sesederhana itu cara saya, karena setiap manusia tentu punya sisi lain. Diantara petakilan yang “katanya” kekanakan sayapun butuh menjadi pendiam, sejenak. Tidak selamanya yang ceria seperti jingga menyala terus-menerus menjadi jingga. Bisa putih, bisa biru, bisa kelabu, andai manusia bisa menyimpan gelembung-gelembung warna di atas kepalanya. Ah kan, “seandainya” ciptaan saya suka ngelantur, maafkeun :’)





One of the thing which I call happiness, MAKAN :p


Dan saat turun, Ya Tuhan sekarang kau butuh warna merah Teman, jika memang iya merah itu artinya berani. Nikmati keterjalannya ya, tadi diawal saya lupa cerita. Oya trekking tanpa kesasar kurang lebih 1,5 sampai 2 jam, treknya…. nanjaknya lumayan sih, tapi ada bonusnya. Sebelum puncak ada batu besar sekali yang harus dilewati. Satu hal, saya kepikiran gelundung dan takut mati karena glundung waktu melewati batu ini. Silakan dibayangkan sendiri ya, better kalau melengkapi diri dengan webbing.

Ini yang saya lupa namanya :(

Mbak Danish juga takut glundung, sama


Yang kami pegang, tugu perbatasan Magelang-Purwodadi



Andai ada gelembung di atas kepala saya, pasti sekarang warnanya jingga karena saya bahagia bisa berbagi cerita tentang tempat indah ini. Duduk di bebatuannya seolah memberi warna putih dan biru karena saya mengartikan dua warna itu sebagai ketengan. Tapi tolong ya, tempat ini masih perawan, dinikmati saja, jangan diperkosa seperti puncak-puncak yang tidak terlalu tinggi lainnya. Tahu kenapa, biar kita sama-sama memiliki warna jingga, jingga sama dengan bahagia. Tidak hanya kita, tapi juga anak dan cucu nantinya. I love you :*








Jika butuh informasi lebih lengkap bisa langsung kontak Pak Yuwono fia Facebook.
Semua foto diambil menggunakan kamera Mbak Ochi, kami mengcapture bergantian. Foto dengan angle yang bagus biasanya hasil jepretan Mbak Ochi sih hehe :p

Kamis, 06 Agustus 2015

Rindu Merbabu, Sini Kugandeng




Berjumpa Merapi dari Merbabu


Kita berjalan menyusur hutan berdua. Melarikan diri dari penatnya kota.
Dan sang senja mengintip dari balik dedaunan. Tersipu malu karna kau lebih indah darinya.
Tak terasa malam menggerayangi lelah. Desiran angina menggoda kita tuk berhenti.
Apipun menari diantara binary matamu. Seolah memberanikanku untuk menyatakan.
Di bawah bintang kita merebah. Saling berpandangan dan tersipu malu.
Aku tak bisa merangkai kata, namun kau seakan membaca hatiku.
Yang ingin jadi kompasmu, ketika kau hilang arah.
Yang ingin jadi sentermu, menuntunmu dalam gelap
Yang ingin jadi tendamu, melindungimu dari badai
Lalu kunyalakan api unggun untuk hangatkan hatimu.
-Lirik lagu Sepasang Pendaki-
Dikuy 


Cerita ini ditulis teruntuk kalian  yang meninggal terlalu banyak kenangan di Merbabu hingga menjadi terlalu melankolis dan memutuskan, “Jangan Merbabu dulu deh, too much beautiful memories with her/him. Aku semakin susah move on nanti.”

Selamat pagi, kalian. Kameraku sedang busuk, menangkap sun rise saja tidak mampu. Tapi dengan sangat bahagia aku kabarkan, matahari terbit di merbabu masih tetap sangat hangat, lebih hangat dari genggaman tangan kalian yang pada akhirnya terlepas :’)




Dulu lagu apa yang kalian putar selama menyusuri jembatan setan? Sepasang Pendaki-nya Dikuy ya, ah ya kalian pasti masih saling mengingat senyum itu, yang sampai membuat matahari tersipu malu karena kau lebih indah darinya. Eaaa…


Sempat berhenti dan berbagi Cad Burry yang melt tidak waktu di tanjakan setelah pos lima? Mana blepotan lagi itu makannya, alah ditisuin juga, manjanya kalian. Aku dan tiga temanku sudah cukup bahagia dengan rebutan air mineral satu setengah liter yang dicampur susu kental manis satu sachet, rasanya sangat tidak karu-karuan. Tapi kami juga merasakan kekaguman yang kalian rasakan, melihat Sindoro, Sumbing, Prau, Ungaran, Merapi, sampai Lawu sedang berdiri gagah bak foto model hot couture di New York Fashion Week.




Ketika akhirnya sampai puncak, apa yang kalian lakukan? Foto berdua sambil memegang tulisan, "Hei nak, ini foto mama papa waktu muda" ? Duuuuuh, envy. Aku dan tiga temanku memilih menepi mencari tempat yang teduh antara Puncak Kenteng Sanga dan Puncak Triangulasi. Kantuk tidak tertahankan,  merebah dan langsung pulas terlelap. Semalam aku tak bisa tidur, kaki dan perut kram, takut hipotermia (iya ini mah tetep parnoan). Tidur sendirian di tenda bersama tiga kerir dan barang-barang itu memang tidak nyaman sama sekali, serius! Oya, kalian sempat setenda juga, pakai SB masing-masing kan? Iya kok, that was both of your prifacy. Hehe

Mas Andri, Ali, saya, Ferdy
Oh heiii dimimpi aku ketemu kalian loh, sepasang pendaki atau… sebentar sebentar, berpasang-pasang pendaki yang sering membuat saya iri. Yang langgeng semoga jodoh dan segera punya keluarga petualang ya. Yang kandas di tengah jalan, ayo mendaki bareng. Aku masih kuat nimpuk pakai trangia kalau tiba-tiba kalian baper, kalau kebablasan nangis stok tisu juga ada kok. :p

Sebagian kenangan memang teramu dengan kelebihan substansi
Galau, baper, melankolis adalah yang membuatmu tetap menjadi manusia
Tidak harus menjadi sempurna tegar, kamu bukan malaikat
Pilihlah tempat yang tepat menampung lemahmu
Selamat Berproses J

Foto milik: Andri Mandala, Ferdy, dan saya


Jumat, 09 Januari 2015

Wajah Lain Jakarta bersama Pacar Peracik Kenangan





 Kita adalah sejoli, bukan? Banyak remah-remah dunia yang kusuka dan kau, selalu di sini, ada dalam genggaman menemaniku menapaki cerita.  Kau suka melihat wajahku, aku selalu dengan over dosis percaya diri berkoar bahwa senyumku memang mengadiksi. Padahal mamang hobimu merekam wajah orang-orang di serakan tempat mana saja. Bisikmu, “Aku paling tahu kamu. Pelupa! Iya, kamu Ghe si pelupa. Biar kubantu mengingat keramahan orang-orang itu ya. Kan kita partner, kamu pelupa, maka aku ada untuk membantumu mengingat biarpun hanya beberapa.” Ah ya ya, kita memang harus saling melengkapi. Trimakasih ya, Pacar Peracik Kenangan. J
Hari ini kita akan bercerita pada mereka, teman-temanku. Perjalanan kecil saja, melipir berjumpa wajah lain Jakarta. Baru saja kita keluar dari KRL yang berjubel-jubel, dan seperti biasa aku merutuki badanku yang mulai melar di sana-sani hingga keluar kerumunan harus sedikit ngos-ngosan. Gendut tidak enak  ya L


Wah lihat itu ada segerombol keluarga sedang menyeberang jalan. Bahagianya mereka, berlibur bersama-sama. “Kamu pingin ya?” godamu. Sialan, aku ternyata lebih sering sendirian. Tiba-tiba kau menyeletuk, “Maksutmu? Aku nggak dianggep!” Ya Tuhan bodohnya aku, maaf maaf. Iya kamu segalanya kok, Teman Perjalanan Ter-segalanya.

Ini dia Kota Tua Jakarta. Sudah kubilang sedari kemarin, tempat ini punya banyak museum yang akan menguras waktu kita seharian. Ayo cepat, aku sudah tidak sabar!

Hei Pacar, kok Museum Bank Mandiri-nya tutup. Ini sudah jam sepuluh, atau memang belum buka?”
“Coba tanya bapak tukang parkir itu.”
Aku bercakap sebentar. Tidak bisa kusembunyikan kecewa di mukaku. Pelupa iya aku pelupa. Termasuk lupa pula bahwa hari ini tanggal merah, tidak ada museum yang buka.

Kau berusaha menghiburku dengan seplastik otak-otak dan segelas selendang mayang. Haash! Kamu pikir apa senyumku, masak cuma ditukar dengan makanan murah pinggir jalan! “Tadi, katanya mau melihat wajah lain Jakarta,” gumammu. Aku diam, kau melanjutkan, “Kenapa tidak rekam saja wajah-wajah dalam arti sebenarnya?”
“Maksutmu?” tanyaku.
“Ayo memotret orang-orang saja. Kan kota tua nggak melulu bangunan kuno sama museum. Jangan glesotan sambil cemberut gitu ah, kayak orang susah!”





Kamu memang mengerti aku. Hehe.. kita menyetop metro mini, siap disergap bau anyir pasar ikan, berjingkat-jingkat menghindari becek, lalu naik sampan ke pelabuhan Sunda Kelapa.





Mendayung perahu. Selain mencari ikan pada petang hingga subuh, di siang hari bapak ini juga mendayung perahu, mengantar orang-orang yang hendak menuju tepi dermaga. Menyebrang dari perkampungan dekat pasar ikan.




Orang-orang bekerja menaikkan atau menurunkan muatan. Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa adalah bagian dari penghidupan mereka.


Kita sempat mampir juga ke Museum Bahari, meskipun tutup L




Lalu kembali lagi ke kota tua. Duduk nggelesot dibawah pohon sambil mengulum es kado. “Hari ini bisa juga disebut memuaskan hobimu, kan?” katamu.
“Hobi apa orang museumnya tutup?”
“Duduk diam mengamati orang. Katamu nama kerennya art of doing nothing.”
Hahaha.. I’m doing something actually. Menebak-nebak dan berimajinasi tentang cerita yang melekat pada orang-orang itu J


Kenapa  bocah ini tampan sekali? Kalau mau punya anak semenggemaskan ini harus mencari bapak yang seperti apa? Hehe


Pacar, tahu tidak? Dulu aku pernah jatuh cita sama anak punk model begini, sebelum didamprat ibuku sih hehe :D


Mbaknya lelah, lelah menunggu pangeran yang mau membonceng dia dengan sepeda kumbang.


Dunia milik mereka berdua ya. Yang lain ngekos.
“Kadang-kadang jomblo suka sensitif sih!” kamu melirikku.
“Enak aja! Siapa yang jomblo? Hih!!!” sahutku ketus


Bertemu manusia patung yang sedang bersiap-siap di salah satu sudut sepi. Kostum yang dikenakan warnanya emas, lengkap dengan gliter di sekujur tubuh dan muka. Kalau orang bilang diam itu emas, bagi bapak ini diam itu receh rupiah.
 *****
Kita sempat berkeliling, gang-gang sempit diantara dinding tinggi. Dalam diamku dan diammu yang abadi aku memilih membiarkan imajinasi hinggap di sana-sini. Tempat ini dan kejayaan Batavia. Hindia menjadi tanah tersohor, orang-orang kulit putih totok hingga perenakan berserak menggaungkan kejayaan. Sementara pribumi masih telanjang mandi di tepi-tepi Ciliwung.
 “Hei, jangan melamun!” teriakmu. Aku gelagapan. “Sini kusimpan lagi senyummu, mumpung memoriku masih punya tempat. Kamu sih suka malas memindah foto-foto lama ke PC.”
Kliik

Senyumku

“Sampai kapan kamu ijinkan aku menemanimu, berkenalan dengan banyak hal dan menyimpan kenangan?” tanyamu tiba-tiba.
“Aku tidak tahu.”
Hening.
“Terimakasih sudah membawaku dalam hidupmu yang istimewa.”
“Kamu yang membuat istimewa. Karena kamu yang merekam semuanya hingga setiap momen tidak kececeran di ingitanku. Apa gunanya momen indah tapi ujung-unungnya aku lupa.”
Kamu tersenyum.
“Trimakasih ya. Kamu bukan kamera istimewa memang. Tapi momen dan kebersamaan yang kupotret dalam lensamu membuatnya istimewa,” lanjutku.
“Kamu selalu berlebihan!”
“Tidak ada yang berlebihan untuk sebuah kamera yang kucintai seperti seorang pacar. Kamu pacarku dalam definisi lain. I Love You.”