Senin, 18 Januari 2016

Sekisah tanpa Cerita



Perempuan di paruh waktu hatinya teguh ditempa kalut
Dia dan dianya telah sampai pada paruh waktu. Dimana kisah dirajah semesta secara sederhana. Dia pernah berjanji tak akan sedalam ini, namun serta merta diburu rasa membuatnya ikut arus saja. Tidak pernah ada yang keterlaluan untuk banyak harap yang dilambungkan, jika mereka lakukan berdua. Jika banyak doa yang diam-diam dia aminkan. Jika usahanya meyakinkan diri sendiri hampir selalu dirubuhkan. Berjejalan kamarnya penuh sesak oleh ‘maaf’ dan rindu. Bergantian, selang-seling rasanya bermain, untuk segala hal yang kadang dia tak tahu atau memang sengaja dikelabuhi biar tak tahu.  Jarak membentang menyuburkan cemasnya. “Aku berangkat liputan,” suara diujung telepon selalu menggerakkan bibirnya merapal doa keselamatan atas dianya, kapan mulai begitu, diapun tak tahu. Perempuan di paruh waktu hatinya teguh ditempa kalut. Dia kalut, mendengar banyak cerita sedari berbulan-bulan lalu yang sudah dimasa bodohkan. Tapi semakin menjadi, tapi akhirnya banyak bukti, tapi akhirnya dia tahu sendiri. Dia diam, tapi tidak terselesaikan. Dia pergi barang beberapa hari, tapi cerita berjalan semakin tak tahu diri. Hatinya teguh diterpa kalut. Kemudian dia tahu apa yang perlu disesali, tak ada sama sekali. Air mata tidak akan membuat mereka berdamai. Memaafkan hanya bermuara pada maaf-maaf yang akan sama. Dia benar pergi, memutuskan pergi karena keadaan membiuskan kebodohan hingga sering lemah tak tahu arah. Majal hanya akan membuat semua semakin terjal.


Lelaki di ujung tanduk harapannya sederhana
Setahunya dia telah banyak bertaruh atas dianya. Usahanya tak ada kurang tak ada jeda. Baru saja telepon ditutupnya setengah jengkel. Tadi sudah diputar lagu Payung Teduh kesukaan dianya supaya redam emosi mereka. Biar semua yang butuh dijelaskan bisa terselesaikan. Atau maaf yang bernar-benar memaafkan bisa membuat semua dimulai tanpa sisa emosi dan gengsi. Tapi apa yang dia dapat, dianya menyalak galak, seperti biasa. Dia sudah lelah. Sebaiknya memang berhenti terus begini. Lelaki di ujung tanduk harapannya sederhana. Harapan sederhana yang tidak disambut dengan sederhana pula. Dia berusaha sederhana, tapi dianya punya otak serumit gulungan bihun kering yang gampang remuk.



Angin menanti gema suara burung berpulang
Sore itu tak biasanya tak ada cahaya di jendela
Sore itu tak biasanya, tidak ada cahaya di jendela, sepertinya mendung. Mereka tahu sudah tidak perlu berkabar apakah disitu sama-sama hujan akan segera datang. Atau disana doa apa yang akan dipanjatkan. “Kata ibuku, malaikat pada turun waktu hujan. Perbanyak doa ya. “  Sudah tidak waktunya berkirim whatsapp mengingatkan jaket atau angkat jemuran. Sudah tidak perlu laporan mobil mogok atau editing video belum selesai hingga harus lagi-lagi menunda makan.

Jika yang tersisa hanya kita berdua
Jika yang menggila ada kita berdua
Lekas jauh pergi
Lekas jauh pergi
Mereka pernah merasa bahwa mereka adalah dua kegilaan yang memang segarisnya dipersatukan Tuhan. “Kamu kan video grapher nanti kalau punya anak bikin video macem  video klipnya Ed Sheraan ya.” Mereka pernah mengobrol banyak sekali hal tidal penting yang cenderung konyol, bodoh, entahlah. Berbantahan tentang kenapa perempuan rela menjaga keperawanan, kenapa pidato Gus Mus di muktamar  NU bisa membuat air mata bercucuran, apa yang lebih bikin fly antara heroin atau putaw, tebak-tebakan KUHP, dimana kos-kosan yang penghuninya parah grebegan, bagaimana ulang tahun dua bocah kembar siam, bagaimana klaim asuransi mobil rental yang nubruk pohon, kenapa indomilk lebih enak dibanding frisian flag, kenapa cewek berjilbab sebaiknya tidak pacaran dibonceng ninja, berapa penghasilan ayam kampus di kota kecil hingga escourt yang didatangkan dari Jakarta ke Surabaya, berapa persentase THR Gudang Garam dari total keuntungan tahunan, alah sampai lupa apa saja. Jika yang menggila hanya kita berdua. Jadi antara mereka adalah sedekat membunyikan sayang, melakukan beberapa hal dijarangnya kesempatan bersisihan, dan mengumpat anjir diantara banyak bego lu ah!  tapi disertai janji, gabisa gini terus kalok udah punya anak nanti! Kita berubah sama-sama, pelan-pelan memperbaiki diri ya! 


Jika yang menggila ada kita berdua. Lekas jauh pergi. Lekas jauh pergi. Seberapa kegilaan yang mereka cerna dan membawa bahagia? Tidak perlu lagi dihitung karena bukan nominal, dan karena memang telah harus ditinggalkan. Lekas jauh pergi Karena itu yang akan membuat kegilan mereka usai. Kegilaan itu bisa berlanjut dengan yang lain. Bisa selesai, menjadi waras mungkin. Tetap dengan yang lain, karena mereka tahu sebaiknya Lekas jauh pergi.
Matahari menyingsing,
kali ini dari utara
Salju turun percaya saja,
meski belum waktunya

---Sekisah tanpa Cerita---



Kata-kata puitis bercetak miring adalah lirik lagu dari Banda Neira berjudul Sekisah tanpa Cerita. Sejatinya lagu ini sangat penuh makna dan tidak punya kemiripan sama sekali dengan cerita di atas. Lagu ini terinspirasi puisi-puisi cinta Yuri Zhivago kepada Larissa, pada novel Boris Pasternak yang berjudul Dr. Zhivago. Novel dengan latar belakang Revolusi Rusia tahun 1905, sesuai dengan penuturan Sorge Magazine. 




1 komentar:

Yours: