Rabu, 08 Mei 2013

GROJOGAN SEWU, Berhentilah Sejenak dan Bercintalah



H
ujan-hujanan saya dan Yamazaki diantar ke pertigaan Srondol sama bapak-bapak ojek. Lanjut jalan dengan bus gede jurusan Tawangmangu cukup dengan Rp 2.500,- Karena pak keneknya nggak ada kembalian, saya dibayarin Yamazaki lagi. Jepang kok nggak pelit ya.. Arigato..
Selanjutnya pasti dong Grojogan Sewu. Perjalanan sekitar dua puluh menit berhenti di terminal Tawangmangu. Terminal kecil yang cukup ramai. Saya bilang ke Yamazaki, setelah ini saya harus cari penginapan. Sedangkan dia harus langsung balik ke Solo after Tawangmangu. Bis terakhir jam empat, mending dia jalan ke Tawangmangu duluan, toh nyari penginapan yang pas di dompet saya dan dekat ke Grojogan Sewu kan nggak gampang di weekend seperti ini. Dia setuju tapi pingin nraktir saya makan dulu. Di salah satu warung sekitar terminal kami menikmati soto ayam. Yamazaki mencoba beberapa sayur yang tersedia di warung. Alamak bayangkan oseng-oseng dicampur soto, dicampur telor asin.. eneg ngeliatnya.



Selesai makan saya sempat menuliskan beberapa kata dan kalimat pendek yang Yamazaki butuhkan. Seperti “Minta teh segelas lagi,” atau “Air panas di kamar saya macet.” Juga dia minta catetan makanan-makanan yang menurut saya patut dia coba. Kami pisah di depan terminal, dia jalan ke Grojogan Sewu dan  saya jalan cari penginapan.

Budget saya untuk menginap tidak lebih dari tujuh puluh ribu. Tanya kebeberapa orang akhirnya dapat Rp 60.000,- semalam. Lumayan bersih, kamar mandi dalam, TV, hanya lima tiga ratus meter ke pintu 1 Grojogan sewu. Tapi, onengnya (again and again) saya baru nyadar pas sore mau mandi, nggak ada air panasnya... Bagus, menggigillah Ghe L






Cuci muka, gosok gigi, wudhu dan sholat Zuhur. Jalan kaki ke Grojogan Sewu, beli tiket Rp 6000,- masuk dan hujan heheg... nasib yah, ga papa preparing payung kan udah J
Licinnya anak tangga yang berlapis lumut memelesetkanku huhuhu.. Sakitnya nggak seberapa, malunya banget. Bodo lah! Grojogan Sewu, Subhanallah.. keceh euy












Tingkat keterkenalan Tawangmangu cukup tinggi, dibanding Jumog pengunjungnya jauh lebih banyak. Penataan lokasi dan fasilitas penunjang juga cukup memadahi. Selain air terjun sebagai objek utama juga ada kolam renang (Jumog juga punya kolam renang tapi sedang renovasi), out bond arena lengkap dengan flaying fox, dan mini rafting. Saya sempat mencoba flaying fox, Rp 11.000,- harga raa-rata lah.
Makanan? Lagi, sate ayam dan sate kelinci, basicnya saya nggak suka sate kelinci. Waktu beli otak saya bilang ‘Pasti rasanya beda,Ghe. Sate kelinci Tawangmangu pasti lebih enak.’ Ternyata saya tetep agak eneg, ya meskipun akhirnya seporsi abis juga sih heheg. Sepuluh tusuk sate kelinci ditambah lontong harganya Rp 10.000,-, untuk sepuluh tusuk sate ayam plus lontong Rp 8.000,-.
Kawasan Grojogan Sewu buka hingga jam empat sore. Air terjunnya lumayan tinggi, fixnya berapa? Silahkan cek gugel sendiri, saya juga belum ngecek heheg. Cuaca di sini moody setengah mati. Kalau mau repot kek saya ya bawa payung saja. Tapi tenang, yang nggak bawa payung banyak kok ibu-ibu yang nyewain payung, hargganya sekitar enam sampai sepuluh ribu.







Di Tawang Mangu harus hati-hati dengan monyet-monyet yang berkeliaran. Mereka siap mengincar barang bawaan anda, terutama bungkusan kresek makanan. Jumlahnya lumayan banyak, mulai yang tua sampai yang masih bayi ada, lengkap. Heheg. Saya menikmati Tawangmangu dari jam dua sampai jam empat sore. Dua jam disana cuacanya bisa berubah berkali-kali. Hujan lebat tiga menit bisa langsung ganti panas cerah. Kabut, mendung, nano-nano banget. 


Sisi sengsara yang harus daku rasakan. Hua... jalan menaiki 1850 anak tangga. Mama... cekot-cekot kakiku.. Ngos-ngsan cuy... Masuk ke Grojogan tangga menurun yang licin, kepleset. Baliknya, sumpah demi apa naik –naik ke pucuk tangga pintu keluar. Jhub.. tandaskan air minum dan selonjor dah :)

Ada part yang sederhana tapi saya lakukan tiap saya pergi-pergi. Duduk diam, doing nothing. Melihat orang berlalu lalang. Nggak tahu, alay ya? Tapi ada sesuatu yang nggak bisa saya jelasin. Kek apa ya? di kepala saya tuh ada percakapan tentang hari ini saya udah ngapain aja, terus meluber-luber, imajinasinya muncrat-muncrat, doa-doa yang kadang kalo dipikir-pikir ga masuk akal berrmunculan. Yah.. mau ngatain saya tukang ngayal? Gapapa, saya ga marah kok :)


Dibanding Cetho, Sukuh dan Jumog memang Tawangmangu yang paling terkenal. Buktinya hanya disini yang menjual cindera mata. Di Jumog kebanyakan yang dijual adalah keripik-keripikan. Saya sempatkan muter-muter sebentar sebelum balik ke penginapan. Beli beberapa bungkus keripik untuk teman-teman kos tercintah (orang-orang keren yang lebih emak-emak dari emak saya. Gantian nge-sms.in saya nanya udah makan belom, tidur jam berapa, nyasar apa enggak. Sumpah ibu saya aja nggak sampe segitunya). Kebablasan curhat kan.. heheg
 Sebenarnya pingin jalan-jalan di sekitar pasar Tawangmangu pas sore atau setelah magrib. Tapi apalah daya kaki tak sampai. Sayang ah, besok masih amat dibutuhkan nih kaki. Okedeh, lha terus ngapain dong. Kan kerennya harus belajar berbaur dengan masyarakat asli biar bisa dapet more than having fun in trip. Yasudahlah, sholat jama’ah di surau kampung dekat penginapan saja, itu berbaur juga kok. Ngobrol bareng anak-anak yang selesai mengaji di surau. Obrolannya sih nggak penting, ga ada teori ekonomi, ga ada prinsip dasar akuntansi.. haha. Tapi.. tidakkah kalian sama seperti aku? Mencintai yang seperti ini? Tak kasi tahu konsepku tentang bahagia ya. Bahagiaku adalah saat bercinta. Bisa saja kita sama. Bercinta dengan tempat yang nggak kamu kenal, yang nggak ada orang yang kenal kamu. Bercinta dengan unprecditable things. Bercinta dengan keindahan Tuhan. Nengok ke atas... .Oh God, awesome sky.. Bintang man! Bintang!Lunjak-lunjak... I Love seeing the stars so much. Mari Bercinta...

Terimakasih untuk hari indah yang Engkau berikan Tuhan
Malam.. tarik selimut... brrr dingin :)





1 komentar:

Yours: